mments 27, 2008
Otsus Papua Tidak Membawa Perubahan
[JAYAPURA] Mantan Menteri Koodinator Bidang Perekonomian, Rizal Ramli mengatakan, pelaksanaan otonomi khusus (Otsus) Papua selama tujuh tahun tidak membawa kemajuan yang berarti, sehingga rakyat punya pikiran ingin keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hal itu dikemukakan Rizal Ramli, seusai memberikan kuliah umum kepada sekitar 500 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se-Jayapura, Rabu (22/10) dengan topik “Kebangkitan Ekonomi Papua” dalam Rangka Dies Natalies Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ottow dan Geisler, di Kampus STIE Ottow Gieisler, Kotarajadalam, Jayapura, Papua.
Provinsi Papua sebenarnya memiliki tanah yang kaya dan diberkati Tuhan, serta sumber daya alamnya sangat luar biasa, sayangnya rakyat hidupnya masih banyak yang susah. “Ini yang menjadi pertayaan kita, pelaksanan otsus selama ini bagaimana? Tentuhnya ini membutuhkan sejumlah kejelasan mengapa itu terjadi?” ujarnya
Menurutnya, anggaran yang selama ini digulirkan pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dalam praktiknya rata-rata anggaran yang menyentuh rakyat hanya 30 persen. Ini yang harus diubah, sehingga rasionya terbalik, 70 persen untuk rakyat. Kalau sampai itu terjadi tentunya manfaat dari kegiatan ekonomi dan anggaran itu akan jauh lebih besar.
Harus ada perhatian khusus permasalahan kebutuhan dasar rakyat asli Papua. “Pertama dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan makanan. Harus diakui rakyat asli Papua masih banyak ketinggalan dari daerah lain di Indonesia. Itu sebetulnya yang dijawab dengan diberikannya otsus,” ujarnya.
Tujuan pemberian otsus, ada percepatan pembangunan di Papua dan memberikan kesempatan yang lebih luas untuk rakyat lebih maju. Namum, sayangnya sampai saat ini otsus itu masih belum terasa manfaatnya bagi rakyat di Papua.
Hal ini yang harus pemerintah koreksi, apa yang harus dilakukan, introspeksi diri, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, karena kalau tidak itu akan memicu masalah yang sifatnya politik.
“Otsus sebenarnya menjadi salah satu kompromi yang terbaik, tetapi dalam pelaksanannya tidak sesuai dengan yang dicita-citakan rakyat Papua, salah satu penyebab utamanya pemerintah pusat sudah menaikkan jumlah anggaran per orang di Papua. Sayangnya, anggaran ini belum sepenuhnya sampai ke rakyat. Banyak yang digunakan untuk keperluan birokrasi dan Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP),” tuturnya
Karena ketidakpastian nasib rakyat inilah, tandasnya, muncul pikiran merdeka dari rakyat Papua. Namun, kalau rakyat itu makannya cukup, memiliki rumah yang sehat, pendidikan yang layak, otomatis keinginan untuk merdeka itu pasti akan berkurang. “Oleh karena itu, pemerintah daerah, harus fokus pada satu program. Fokus yang betul-betul menjadi kepentingan rakyat di Papua,” tandasnya.
UU Otsus dipersiapkan pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri, seharusnya UU dilaksanakan sebaik mungkin. Tetapi, hingga saat ini banyak keluhan dari masyarkat di Papua bahwa pelaksanaan otsus masih banyak kelemahannya. “Pemerintah pusat punya tanggung jawab agar UU Otsus Papua dilaksanakan,” katanya.
Mengenai pengelolaan sumber daya alam di Papua, khususnya penambangan emas dan tembaga di Grasberg, Tembagapura, Mimika dia meminta perlu renegosiasi kontrak tambang dengan PT Freeport Indonesia dan pemerintah. Sehingga ada manfaat dari tambahan hasil renegosiasi itu bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Papua.
Perpanjangan kontrak yang dilakukan pada era Orde Baru, ternyata tidak terlalu menguntungkan Indoensia, terutama rakyat Papua. Perlu ada renegosiasi sehingga ada manfaat dari tambang ini dan dirasakan lebih besar oleh rakyat Papua.
Capres 2009
Ditanya apakah siap mencalonkan diri jadi presiden 2009, ia mengatakan, rakyat akan melihat siapa yang bekerja untuk rakyat. “Saya ingin maju dalam Capres 2009. Saya percaya rakyat Indonesia punya mata dan hati untuk memilih pemimpinnya,” ujarnya.
Ditanyakan tantangan dan saingan capres lainnya, Rizal mengatakan, melihat tantangan yang ada, dirinya makin bersemangat. “Di mana tantangan yang dihadapi masyarakat Papua ini, rakyat yang belum menikmati otsus dan kehidupannya belum berubah. Saya semakin tertantang untuk maju menjadi capres,” tandasnya. [154]
Last modified: 25/10/08